merenung: sudah tiba saatnya

longsor di situbondo, banjir di bojonegoro, banjir di sumut, banjir di riau, banjir di jateng, banjir di palembang, banjir di ntt, bahkan bandungpun sekarang kebagian banjir. kalau jakarta memang sudah rutin.
dan permukaan lautpun naik sesenti demi sesenti akibat pemanasan global.

bencana sepertinya menjadi berita akrab beberapa tahun kebelakang ini.
sudah seharusnya cobaan yg datang bertubi2 ini membuat kita merenung.. apa kesalahan kita yg membuat alam seolah marah ?
sudah tidak becuskah kita menjadi khalifah di bumi Allah ini ?
coba kita lihat bagaimana kelakuan kita selama ini.
pohon2 pengikat bukit ditebang habis seolah menantang diturunkannya azab Allah berupa tanah longsor.
kali dan sungai menjadi tempat pembuangan akhir (tpa), menjadikannya dangkal. maka tidak heran bila musim hujan seolah mengharap banjir. pernah lihat kasur atau kursi yg dibuang ke sungai ? hmmm itulah kelakuan sebagian kita.. begitu egois, dan sekaligus tolol!
kita juga paling senang mengkonsumsi plastik – sampah anorganik yg emoh dihancurkan oleh makhluk pengurai. lihat kelakuan sebagian kita kalau keluar dari supermarket.. gak cukup dengan sebuah kantong plastik besar, tiap belanjaan dipisah-pisah dengan plastiknya sendiri2..
bahkan, bukankah lebih baik kita mulai untuk mengurangi konsumsi plastik dan menggantinya dengan kantong kertas ?

dan sebagian kitapun menjadi manusia2 kufur..
ketika kemarau, kita mengeluh karena sawah, ladang dan air sumur menjadi kering..
membuat ibu2 rumahtangga mengantri untuk membeli air minum dan untuk keperluan rumahtangga lainnya.
kita juga jadi gampang berkeringat karena udara panasnya, bikin badan menjadi bau karena mengharuskan rutin untuk mandi sedangkan air susah didapat.
menyalahkan alam, menyalahkan tukang ac karena air conditonernya sering macet, hingga menyalahkan tuhan karena terjadi pergeseran musim.

sedangkan ketika musim hujan, kita pun sering mengeluh karena cucian gak kering2, seharian nongkrong di kantor karena di luar ujan lebat, banjirpun dimana2, longsor juga, sawah2 juga terendam air…
dan kembali kita mengeluh, merutuk dan mengutuk..
itulah sebagian sikap kita yg kufur terhadap pemberian Allah.

kita harus berhenti sebentar, kasih kesempatan buat hati dan akal untuk merenung..
periksa lagi kelakuan kita selama ini,
kita terlalu banyak mengeluh…
tapi kesalahan demi kesalahan masih juga dilakukan di dalam kesadaran kita..

cobaan dari Allah sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang supaya kita kembali mengingatNya.
mengingatkan kita pada janji untuk mengurus bumi ini dengan sebaik2nya.
lalu berpikir, … sudah saatnya kita memiliki pemimpin adil, amanah, cerdas dan tegas.
yg bisa membimbing rakyatnya menjadi manusia2 yg pantas menyandang khalifah di muka bumi.
bukannya memilih pemimpin yg membiarkan korupsi merajalela, mengencingi hukum dengan tipu daya fulus, mengejar kekayaan dari hasil proyek2 siluman yg menguras uang rakyat, dan menguras sumberdaya alam tanpa berpikir akibat negatifnya buat generasi esok.
masa depan bumi yg akan kita wariskan buat generasi ke depan harus mulai dipikirkan saat ini juga.
dan 2009, tinggal setahun di depan.
sudah cukup waktu kita untuk bisa berpikir dewasa dalam menentukan hak politik.
dan sudah cukup cobaan demi cobaan datang menimpa yg mengharuskan kita untuk mengurus bumi ini dgn lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s