bukan tsa’labah

ada yg tau mie kocok? mie kocok hampir sama dengan mie bakso, tapi baksonya diganti dengan kikil sapi, dominan cuka dan pasti ada tauge.
bukan makanan yg mau diceritain di sini, tapi soal mas karyo yg seorang pedagang mie kocok.  dia tinggal erwe sebelah.
mas karyo sudah lama saya kenal, mungkin lebih dari 15 thn yg lalu, dia ramah, suka bercanda, dan aseli lucu.  sambil mendorong roda dagangannya, pinggulnya yg berisi (orangnya sedikit tambun) kadang suka goyang-goyang kayak penyanyi dangdut, sengaja supaya orang yg melihat jadi ketawa.  dan memang, yg ngeliat gaya mas karyo ini sering jadi cengar-cengir krn geli …:))  … bisa ada bayangan, kan, sosok mas karyo bagaimana?  supaya sambil ngebayang2in, giituh, sambil baca ceria di bawah …:hehehe

mungkin sudah 6 bulan lebih gak kelihatan sampe sekitar 3 minggu lalu kembali nongol sewaktu mau shalat maghrib berjamaah. kalau shalat maghrib dan isya, mas karyo memang sering shalat di masjid deket rumah.  mas karyo mungkin lebih betah shalat di masjid sini dibanding dgn masjid di deket rumahnya, mangkanya jadi sering ketemu.

assalamu’alaikum kemana aja nih mas ?

dengan suara yg berat-berisi dan logat jawanya yg medok, dia jawab dengan ramah…
wa’alaikumsalam, iya nih pulang kampung dulu, nengok keluarga di jawa.

ooh gitu… koq gak dibawa ke bandung?

iyaa.. soalnya saya punya sawah juga di sana yg musti diurus..

weleh.. hebat si mas, sudah punya sawah sekarang.  berapa luas ?

yaah lumayan lah.. gimana ibu dan keluarga di rumah, sehat-sehat ?

alhamdulillah, jawab saya.  semua baik-baik saja.  sudah nikah sekarang ..?
ehm .. sudah qomat mas, ayo masuk … :ngeles[dot]com

itu sedikit obrolan menjelang kami shalat maghrib.  karena sudah iqamat maka kami mulai shalat berjamaah.

mas karyo ini biasanya setelah habis shalat magrib, trus dzikir yg lumayan lama hingga jelang isya tiba.  dan setiap waktu selalu begitu, sehingga kl pas waktu maghrib ada di masjid, bisa dipastikan shalat isya juga masih ada di masjid.

mas karyo yg bersahaja, yg gak lelah berjualan mie kocok dengan rute keliling jualannya yg lumayan jauh (saya pernah ketemu dia di jalan citarum.. lumayan jauh kl jalan kaki).  yang berhasil menabung dari hasil berjualannya untuk dibelikan sawah, namun tetap istiqamah.  yg mampu mengalokasikan waktu 1.5 jam selama maghrib-isya, khusus untuk berdialog dengan pemilik segenap makhluk.
gak ada bedanya mas karyo dulu dengan sekarang, walaupun sekarang sudah dikasih amanat lebih yaitu limpahan rejeki oleh Allah, tapi aktifitas ibadahnya tidak jadi surut.  harta mungkin bukanlah priorotas utama dalam hidupnya, yang diutamakan adalah keikhlasannya dalam berusaha semata untuk mencari ridha Allah.

sebuah potret manusia yg layak menjadi teladan.

berbeda dengan tsa’labah, seperti ceritanya yg sering kita dengar.
walaupun cerita tsa’labah ini mengundang kontroversi mengenai ke-valid-an ceritanya, tapi potret mengenai “sosok seperti tsa’labah” adalah potret yang memang bisa terjadi pada kita.

sedikit cerita tentang “tsa’labah”…
tsa’labah sering digambarkan di dalam cerita merupakan seorang yg kufur terhadap nikmat yang sudah Allah kasih.
tsa’labah sering kali setelah shalat berjamaah, langsung pulang ke rumah tanpa ikut berdoa bersama Rasulullah.  karena Rasulullah heran dengan tingkah tsa’labah tsb, maka Rasul bertanya kenapa sebab dia demikian.  lalu tsa’labah bilang bahwa dia begitu adalah demi untuk bertukar kain dengan istrinya yg hendak shalat juga.
karena iba maka Rasulullah kemudian mendoakan limpahan rizki buat keluarga tsa’labah.
hari demi hari berlalu, ternyata kambing punya tsa’alabah berbiak dengan banyak, maka mulai-lah dia repot dengan urusan ternaknya hingga mulai dari telat shalat berjamaah, lalu absen berjamaah, telat shalat jum’at, lalu absen shalat jum’at, sampe enggan mengeluarkan zakat.  “cerita tsa’labah” tersebut adalah sebuah potret manusia yg kufur thd nikmat Allah.
dan bukan tidak mungkin diantara muslim memang ada yg seperti itu, yg ketika miskin begitu khusyu beribadah dan sangat semangat, tapi ketika Allah mengujinya dengan limpahan nikmat malah menjadi lalai.

kontroversi dari cerita tsb adalah, bahwa tsa’labah seorang yg ikut dalam perang badar.  orang-orang yg ikut berperang dalam perang badar sudah mendapat jaminan Allah untuk masuk syurga.  lalu kenapa bisa ada cerita spt itu ?
hmmm.. ini masalah politik.  tapi saya gak mau bicarakan ini di sini.  yg jelas cerita tsa’labah ini jangan kita ikut sebar-luaskan.  anggap saja nama “tsa’labah” adalah pseudonym, dan hanya merupakan sebuah simbol dari manusia kufur, tapi bukan tsa’labah yg ikut berjuang bersama Rasulullah dalam perang badar.

mas karyo bukanlah “tsa’labah”, dia tetap manusia istiqamah walaupun pundi-pundi hartanya sudah bertambah.
tetap bekerja keras keliling kampung hingga mengekspornya ke lintas kecamatan untuk berjualan mie kocok yg menjadi sumber nafkahnya.  walaupun hidupnya keras harus berjualan dari siang sampai malam hari, tapi rasa syukurnya bisa terpancar dari kesungguhan untuk beribadah dengan tekun.

kita yg hidup berkecukupan apakah mampu juga seperti mas karyo ?

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s