catatan kemarin: keadilan dan ikhlash

jarak antara daerah uki dan tmii sepertinya gak terlalu jauh, apalagi kl dilihat di peta dan diambil garis lurus – rasanya sih deket.
krn itu saya putuskan untuk naik ojeg saja, selain krn penikmat terpaan angin [fanatikus motoris] juga bisa lebih murah dibanding taxi bluebird tarif baru bukan ? :heuheu
sebetulnya jalur dari uki ke tmii belum pernah dicoba, lokasi yg ditujupun sebenernya belum tau – pokoknya pintu 1 tmii. tapi krn menurut petunjuk peta hanya beberapa centi maka dgn sok yakin si tk ojeg langsung saya todong 15rebu perak.
awalnya nawar 25rebu, trus turun jadi 20rebu… krn merasa yakin jaraknya deket, maka dengan keteguhan dan semangat tawar-menawar ala ibu-ibu di pasar akhirnya si tk ojeg nyerah di angka 15rebu.

okee .. tarix jabrix …
maka dimulailah perjalanan yg [saya kira] deket itu.
10 menit .. 15 menit … e ehh jauh juga ternyata. untungnya masker dan kacamata item sudah dipake sejak ‘nunggangi si jabrix’, asep knalpot dan terpaan angin yg bisa membuat kering lensa kontak jadinya bisa diminimalisir.
di jalan jadi kepikiran, kl saya yg jadi tukang ojeg, dengan perjalanan yg spt ini … mana mau ?
trus bbm juga baru2 sudah naik.
hmm.. gak bener nih, gak adil.
kalau dikira2 perjalanan ini memang cuma butuh kurang dari 1 liter bensin (saya biasa pake pertamax, tp kl gak salah tebak harga bensin adalah 6000/liter setelah bbm naik).
tapi karena pertimbangan awalnya jalur tsb adalah deket, maka 15rebu rasanya not worthed lagi [kl saya yg jadi tk ojegnya :d].
untungnya lokasi yg dituju gak begitu sulit, jadi langsung ketemu.
setelah sampe, perasaan ada sebuah ketidakadilan merasuk jauh merongrong hati.

ini bang, 15rebu … gw tambahin deh … nih 5rebu…
si jabrix senyum2, makasih ya .. katanya.
[di dalam hati saya bilang, mudah2an itu harga yg pantas, dan lu gak jadi ngedumel, bang.. ayoo semangat cari boncengan baru :heuheu].

hati dan ikhlash
hati harus selalu dipelihara agar bisa menjadi hakim di dalam setiap langkah hidup kita.
menentukan benar dan salah, adil atau tidak adil landasannya adalah hati nurani. karena hati nurani adalah fitrah yang Allah tanamkan dan menjadi bekal dalam melalui kehidupan.
ada al quran yg menjadi guidance yg memelihara hati manusia agar tetap lurus, yg membersihkan hati dari koreng agar tidak menjadi karat.
tapi memelihara ikhlash jauh lebih berat dibanding memelihara adil – at least itulah yg saya rasakan.
kalau ongkos ojeg yg saya naiki adalah 50rebu, dgn tingkat minum bensin motor yg cuman kurang dari 1 liter. secara aturan muamalah adalah sah, karena kita sudah sepakat. harusnya saya bisa ikhlash – tapi untuk bisa iklash dalam kondisi tsb sepertinya agak sulit. kadang saya maki2 sendiri hati ini koq sampe terjadi ketidakikhlashan semodel itu.
itu-lah pe-er yg harus banyak2 dilatih. harus ber-ikhlash di saat akad sudah putus.
walaupun sebenarnya untuk urusan materi gak pernah menjadi beban pikiran, beberapa saatpun ganjalannya sudah bisa hilang. tapi untuk urusan lainnya selain materi, ternyata manusia lemah ini harus berjuang agar bisa ikhlash. tapi maksimal 3 hari, itupun sudah kelamaan… life’s too short to worry … karena kalau kita sadari, apa yg kita terima – apapun itu, merupakan sebuah fase di dalam kehidupan yg fana. dunia semata bukan tujuan kita toh?

2 thoughts on “catatan kemarin: keadilan dan ikhlash

  1. diajeng

    sekedar menambahkan🙂 … sejatinya ikhlas dan adil itu tidak berbeda kang hadi, ibarat sahabat yg slalu lengket berdampingan. berlaku ikhlas sebenarnya berlaku adil thd diri sendiri. adil tidak menyimpan sampah di diri utk suatu hal kejadian di luar diri yang terkait dgn satu atau lebih situasi dalam diri, utamanya hati, ego dan pikiran. Allah SWT Telah Menempatkan kondisi mukhlisin sbg kondisi tertinggi sebagaimana yg dituangkan di Al Quran “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah …” [QS 4 : 125] .. menjadi mukhlisin, berarti kita telah menjadi orang Islam atau orang yang Berserah Diri pd Sang Maha Tunggal🙂 adil kepada org lain dan adil kepada diri sendiri.

    Balas
  2. hadingrh Penulis Tulisan

    gak ada maksud membandingkan adil dan ikhlas koq teh fitri, krn memang tidak bisa dibanding2kan🙂
    keduanya memang harus selalu seiring sejalan, ketika berbuat adil maka ikutilah dengan ikhlas (yaitu adil thd diri sendiri).
    gak heran yah kl mukhlisihin itu golongan yang mempunyai posisi tinggi, krn memang sulitnya untuk mengikhlaskan sesuatu yg kita rasakan sebagai hak milik, sesuatu yg disukai dan dicintai, yg harus lepas dari genggaman.
    jadi inget artikel teh fitri tentang syukur dan sabar🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s